8 of 365 : Bukan Karena Kita Sudah Baik

Suatu saat, ada seseorang yang bilang, "Ngapain sih posting-posting yang baik-baik, toh dianya juga ga segitu sucinya."
"Alahh..kerudung doang gede, kelakuannya naudzubillah!"
"Dih, sehari-hari pakean kurang bahan kok mau ikut kajian?"
atau ...
"Yaelah, mau ngomong kasar juga terserah lah, dari pada sok santun tapi kelakuan bobrok, munafik!"
Dan di waktu yang lain, ada orang-orang yang jadi takut berbuat kebaikan karena memang merasa dirinya tidak baik. 
Padahal sebenarnya ia mau, tapi karena kata-kata orang jadi ia urungkan saja. Karena memang dia merasa dirinya tidak pantas berbuat baik.

Hanya karena,"Apa kata orang kalau saya ngelakuin hal baik? Dengan tampilan yang tidak se-alim orang-orang?"

***
Sebenarnya ini postingan untuk siapa saja. Tapi terlebih untuk kita yang masih dalam tahap untuk menjadi baik, agaknya ini menjadi bahasan khusus. 
Banyak orang yang ingin berubah. Tapi justru yang jadi bumerang adalah perkataan orang lain. Yang berkata ini-lah itu-lah.

Hey, tapi apakah dengan perkataan orang itu kita jadi berkaca?

Jika ia kita merasa bersalah atau merasa ada yang perlu diperbaiki, SELAMAT! 
Berarti ada secercah harapan untuk kita berproses jadi lebih baik. Karena, jika kita ingin berbenah, yang perlu ada pertama kali ialah rasa berdosa dan tidak ingin terus menerus begitu.
Tetapi jika perkataan itu justru membuat kita sombong dan merasa benar sendiri, mungkin ada yang salah dalam hati dan pikiran kita.


***

Untuk kawan-kawan dan diri sendiri...
Ada beberapa hal yang perlu kita cermati,

Bukan berarti jika kita berhijab besar, maka kita jadi sempurna bak malaikat.
Bukan berarti jika kita masih berpakaian mini dan seadanya, maka kita tak bisa ikut belajar di pengajian.
Bukan berarti jika kita berbusana muslim syar'i, maka kita jadi berhak mengklaim surga
Bukan berarti jika kita tidak memakai hijab, maka kita boleh mengolok yang berhijab dengan kata-kata," karung beras, kerudung kayak tenda, kura-kura ninja dll" yang seharusnya tidak kita ucapkan.
Bukan berarti dengan jadi orang yang alim, kita berhak memandang rendah orang lain yang belum mengamalkan agama dengan baik.
Bukan karena kita sehari-hari terlihat religius, kita merasa sudah jadi orang yang tidak punya dosa.
Bukan karena sehari-hari kita tidak terlihat religius, kita dengan mudahnya berkata, "Sok alim lu!"

dan bukan karena orang lain, kita jadi malu berbuat kebaikan.



Teruslah berbuat baik...
Membagikan sesuatu yang baik, mencoba berkata baik, terus menempa diri agar segala sesuatu bisa bernilai ibadah. Pelan-Pelan.
Memang sangat sulit, saya pribadi juga merasa itu hal yang sangat sulit.  Apalagi banyak dari kita yang tidak mudah lepas dari masa lalu, saya pun begitu, entah itu tidak baik, kelam, atau apapun kau menyebutnya.
Tapi berbahagialah, jika kita masih merasa bersalah dan memang perlu berbenah. Bukannya sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain?

Ketika merasa bersalah, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menanamkan kebaikan sedikit demi sedikit. Menaruh kepingan-kepingan kecil cahaya di sanubari kita, yang sudah lama dipenuhi titik hitam yang merajai hati dan pikiran.

Teruslah berbuat baik...
Bukankah semua orang juga punya dosa? Hanya saja Yang Maha Pemaaf menutup aib yang selama ini kita punya. Biarlah, semua orang juga berdosa. Jika memang dosa itu bau dan berwujud. Maka tidak ada yang mau berkawan dengan saya, mungkin juga denganmu?

Hey, kamu

Teruslah berbuat baik...
Bukannya di sebuah perlombaan ada seekor katak tuli yang juara menaiki sebuah menara, kenapa yang lain gagal? Karena yang lain mendengar kata orang, memasukkan hati cercaan orang, merasa tidak punya kemampuan. Karena katak itu tuli, bodoamat dengan apa hinaan. orang Yang kita butuhkan kadang menutup telinga dan terus maju. Toh didengar juga biarkan jadi angin lalu, biarkan jadi cambuk diri untuk berbenah.

Lagi,
Teruslah berbuat baik
Teruslah berbenah diri
Memang sulit dan banyak rintangan

Teruslah berbuat baik...
Hari ini dan seterusnya,
Dan nurani tak pernah bohong
Bahwa kebahagiaan yang didapat dari melakukan dosa, hanya sementara.
Hanya kita sering kali mengabaikan sentilan kecil Tuhan itu.

Teruslah berbuat baik
Jika terpaksa khilaf
Tetaplah lakukan kebaikan, perlahan saja
Bukan karena kita sudah merasa sempurna
Tapi semoga nikmat nafas ini jadi pengingat, kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat

Semoga dengan begitu, Rabbul 'Alamin bisa memaafkan.
Jika kita terus menerus nyaman dengan dosa, apakah yakin kita menaruh harap mencicip aroma surga?


***

Allahu musta'an
Ditulis oleh orang yang penuh dosa
Semoga sudi diampuni Pemilik Semesta


Komentar