13 of 365 : Gara-Gara Kang Abik

Kang Abik siapa?

Mungkin ada yang belum tau?
Beliau adalah Habiburrahman el Shirazy.
Masih belum tau?
Kalo Ayat-Ayat Cinta? Ketika Cinta Bertasbih?
-
Sampai disini semoga kita udah satu pemikiran, gimana tenar dan kerennya novel-novel itu. Kang Abik adalah sapaan akrab penulis novel-novel tersebut.

Tulisan beliau, entah kenapa sering sekali booming. Heran. Selain dari sosok beliau yang sarat penuh prestasi. ada bumbu apa ya di tulisan beliau? Kok saya jadi banyak mikir merbaiki idup gegara baca novel. O iya tentang prestasi beliau, tidak usah saya ceritakan. Googling sendiri ya, soale banyak. Hehe. Tentunya saya ga apal juga dong.

***




Gara-Gara Kang Abik

Beberapa hari ini Kang Abik bikin gara-gara. Entah, dalam jangka 10 harian ini saya maraton baca karya beliau. Sebenernya dimulai dari seorang teman yang ngasi tau kalo ada film bagus, Cinta Suci Zahrana. Karena itu cerita diambil dari novel beliau. Saya kan ter-inspiring so much banget sama sosok yang menulis novel ini.

Nah dalam film tersebut ada dialog seperti ini, "Ya tidak ada salahnya untuk memperkaya jiwa kau baca juga karya-karya sastra." Sebuah dialog antara Zahrana dan Bu Dokter. Dari situ mikir sih, daripada ngegalao, mending baca buku sastrahhh, asal ga sastra wangi karena bisa mempengaruhi fikiran  saya jadi yang tidak-tidak, hahaha. Cuma si untuk referensi bolehlah sekali-kali dibaca.

Sebenernya saya juga baca yang lain, tapi untuk novel rasanya males. Kadang suka menyek-menyek. Kan mellow ya. Baca novel kemaren-kemaren aja, Bumi Manusia dibaca lebih karena penasaran dan ada bau-bau mau difilm-kan. Mungkin agar terlihat keren...karena baca karya Pram. Semoga tidak.

Tapi namanya jodoh lah ya ga kemana. Mau saya ngehindar ga mau baca novel-novel juga tetep ga bisa ngelak.
Jadi, pas setiap mau ke dapur rumah saya, ada ruangan yang ada buffet buku keluarga, nah pas lewat situ tuh.... si novel KCB tuh kayak manggil..

"Hey Dil baca..bacalah aqyu...!"
Kira-Kira begitu imajinasi saya.

Akhirnya saya ambil deh itu buku. Jadi flashback pas MTs suka halo halo ikutan baca novel Kang Abik. Karena suka dari pas Ayat-Ayat Cinta juga, liat Fahri di Mesir kan asoy gitu. Karna Fedi Nuril so ganteng, yah sebatas itu ketertarikan anak SMP labil. Tapi waktu itu ga nonton di bioskop yang AAC-nya.
Lah pas KCB pengin.... lalu ku tonton filmnya segala di bioskop. Padahal ada peraturan di sekolahan dulu, kalo dilarang nonton di tempat itu. But well, karena penasaran sama  Azzam dan Ana, jadiku nekat ingin nonton dan emang bagus si filmnya. Jadi, waktu itu rasane pingin kuliah di Al-Azhar. Tapi yasudah, sudah kadung di kampus matahari ini ~ semoga ada kesempatan kuliah di luar negri (amin).

***

Pas buka buku KCB pertama, malah ada pengantar dari seorang Professor, yaitu Prof Laode M. Kamaluddin. Seorang akademisi jebolan Iowa University. Penikmat sastra katanya. Redaksinya ga saya hafal. Cuma ada makna yang tersurat kalo di jaman edan ini nih, kita seakan-akan ketika liat sosok Azzam (atau juga Fahri dan tokoh utama lain), kita rasanya sosok itu terlalu sempurna. Gegara dunia sekarang akhlaknya makin ga jelas. Jadi, kalo nemu sosok seperti diatas jadi mikir kayae sosok gitu ga mungkin ada, padahal banyak. Cuma saking kotornya lingkungan kita jadi jarang banget nemu orang kayak gitu.

Baca halaman demi halaman, eh kok malah saya kebawa suka. Malah akhirnya baca jilid 2, trus lanjut ke Dalam Mihrab Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, dan ini baru aja rampung Bidadari Bermata Bening.  Eh, aing ketagihan. OMG.

Mulai dari gaya bahasanya, kitab-kitab ; kisah hikmah dari orang terdahulu yang diceritakan dalam novel, detail tempat yang Kang Abik jelaskan seperti kita tuh ikutan ada disana, apalagi plot yang ditawarkan. Menariknya ada sejenis daftar pustaka dibelakang novelnya. Weheheh
Dan ~ hal yang mengena dalam karya beliau itu, menurut saya pribadi adalah cerita cinta dan tentang prestasi.

Kisah cinta yang ditawarkan dalam novel kayaknya ga jauh beda sama kisah asmara lain, tapi gimana seseorang yang digambarkan mencintai makhluk berlandaskan nilai-nilai ilahiyah tuh nyeeesssss banget di hati quw. Jadi cinta ga sekedar cinta, tapi gimana cara ngendaliin hawa nafsu sama yang belum halal dan yang sudah, gimana menempatkan ridho kepada takdir Tuhan, dan kalo bisa sabar bakal dapet balasan kebahagiaan yang ga diduga. Ada juga cerita tentang prestasi tokoh yang ditampilkan. Biasanya, banyak pola pikir orang yang menempatkan ganteng-cantik sebagai ukuran tertinggi dalam menilai seseorang. Tapi disini beda, fisik yang menarik mungkin bonus, tapi prestasi ; karya, dan kiprah bagaimana menebar manfaat bagi orang itu yang jadi titik penting dalam menilai seseorang. Kadang Kang Abik menceritakan kisah-kisah kelam orang yang akhirnya bertaubat dan menemukan arti hidup tuh bikin saya semangat merbaiki diri, kisah orang-orang yang "biasa aja" dimunculkan dan membuat kita belajar banyak hal dari sosok seperti mereka...contohnya ; belajar dari kisah hidup pak Supir di KCB, seorang pedagang kerupuk yang masya Allah soleh dan tawadhu di Cinta Suci Zahrana, TKW yang ternyata seorang akademisi di sebuah cerita dalam novel "DMH", Gus Afif yang melakukan pengembaraan diri lalu menjadi pedagang gulali dan roti Barokah.


Akhirnya, saya berada dalam sebuah kesimpulan. Bahwa menulis itu memang punya efek dahsyat. Orang akan dikenang dengan karyanya terlebih menulis, orang bisa membangun gedung, bisa membuat ini itu, tapi saya rasa ada efek yang heboh loh dari tulisan. Efeknya menggerakkan, membuat kita berpikir, bahkan membangun jiwa...seperti yang ditawarkan Kang Abik dalam novelnya. Sebagai permisalan ; Al-Quran dan Hadis bisa terjaga salah satunya karena budaya menulis. Imam-Imam jaman dulu bisa kita kenang, bisa kenal tanpa berjumpa...ya karena tulisannya. Gimana Karl Marx ajarannya tetap diingat karena Das Kapital-nya walaupun dia mati dalam keadaan sengsara, tapi buah pikirann beliau menjadi ide bagi banyak orang sampai saat ini, Charles Darwin dengan Origin of Species, The Art of War karangan Sun Tzu, Hitler menulis Mein Kampf-nya, dan masih banyak lagi. Ada saja ilmu yang kita dapatkan, bahkan seakan kita berdialog langsung dengan orang-orang hebat tersebut. Pun, sampai penulis kontemporer zaman ini, tentunya Kang Abik akan abadi juga bersama tulisan-tulisannya. Semoga mengalir pahala jariyah kepada orang-orang yang selalu menebar kebaikan.

***

Kadang mikir, karya manusia aja bisa "digilai", sosok penulisnya dijadikan inspirasi, malah kalo ada yang lebih jadi diagungkan. Apalagi Tuhan yang menciptakan manusia, alam semesta dan seluruh isinua. Saya prihatin dengan diri saya sendiri,  kalam-Nya pun terkadang saya abai. Padahal Dia-lah Maha Agung. Merintahin kita buat baca. Padahal udah jelas kalo kitab suci tuh jadi obat, penenang hati, penentram jiwa, petunjuk untuk kita ke jalan lurus. Tapi kenapa kita sering lalai. Mau salahin setan, kok kayanya kurang adil, karena tugas mereka cuma bisik-bisik. Eksekusi mau males apa ga kan kita yang lakukan. Huhu, jadi sedih aing teh.

***

Lagi-Lagi, jika melihat diri sendiri ngenes. Jiwaqu meraung-raung. Saya juga pengen seperti mereka, menulis, berkarya, nebar manfaat. Ya kali ya nulis jadi ibadah, sarana taubat....jadi nyicil hapus dosa yang uncountable.

Hey jangan qau syedih, qaqa...

Jalan masih panjang, kan baru saja mulai. Baru belajar. Semoga kapan-kapan bisa ikutan menebar manfaat. Walaupun dengan tulisan ringan-ringan. Seperti ini contohnya?

***

Buat tambahan ya gan...ane tambahin yang seger-seger :

Imam Syafi’i rahimahullah bertutur : 
الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ * قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ
فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat
Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang
Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. 
(Diwan Asy-Syafi’i)

Allahu musta'an wa astagfirullah.
Dariqu, seseorang yang selalu menjadi perindu ~~~
Huuu.

Komentar