Definisi Nyaman

Kadang takut sama yang namanya nyaman.
Takut nyaman sendirian.

Rada mellow dan ga penting. Tapi saya udah kapok, nyaman keterusan trus nanti ditinggal begitu saja dengan alasan yang sepele dan kekanakan. Bisa jadi takut karena memang nyaman yang bener-bener nyaman itu bukan yang dirasain sendiri. Tapi, saling.
Jadi lebih baik hilang sebentar tak bertanggung jawab (itu lebih baik) dibanding harus terus merasakan hal yang ambigu, absurd...lebih-lebih patah hati.

Apasih yang ga lebih sakit dari sudah nyaman tapi ternyata cuma pelampiasan sepi, atau sudah nyaman tapi (lagi,lagi) nyamannya sendirian. Sedangkan dia, tidak (sama sekali).
Apa sih yang ga lebih sakit hati, kalau ternyata memang bukan kita yang diharapkan. Cuma jadi pemanis (buatan) untuk sementara saja. Dan (lagi), objek rasanya sudah transit parkir ditempat lain.

Saya berdoa aja. Semoga nanti akan ada orang yang benar-benar bisa menerima dengan segala kekurangan dan sedikit kelebihan saya. Pesimis sih, kadang-kadang. Orang dengan personality kayak saya, dengan keanehan yang kadang diluar nalar manusia normal (mungkin?), bakal ada yang mau nerima apa adanya, bakal mau sabar. Sebenernya saya ini rada bucin. Kalo sudah sama satu, dan dia-nya ia. Yaudah. ayok2 aja.
Tapi kalo cuma ngerasain sendirian,
Itu sama saja menabung kebinasaan.
And I dont want repeat my past mistakes.
https://1825sintaya.wordpress.com

***

Kita bisa jadi siapa saja, ketika kita mau. Bisa berganti menjadi ini dan itu. Bisa berubah mau jadi orang gila, cendekiawan, orang dungu, anak-anak, bahkan seorang putri.
Tapi saya memilih untuk menjadi diri sendiri yang belum bisa terdefinisikan. Kadang saya ga bersyukur karena banyaknya nikmat yang telah diberikan.
 Masih aja mikir, 
"Coba aja cantik, flawless kayak mbak-mbak perawatan. Pasti ntar masalah jodoh ga usa sering sesakit ini."
"Coba aja saya tuh kayak cewek2 halus, lembut ga pecicilan, mesti bakal ga sering ngerasain sakit ati.Soalnya gampang buat orang lain suka."
"Coba aja ga ceroboh...
"Coba aja ga labil...
"Coba aja...


Coba aja-nya saya ini masih cetek banget, padahal cinta itu ga seputar tentang fisik yang harus gimana2, kadang yang bisa tenang tuh, ''Sabar aja, nanti pasti semua ada jodohnya." Kadang kita ga sabar, trus coba peruntungan. Kalo sudah begini ya memang siap-siap sakit. Apalagi dia-nya "high" kitanya "low" dia "up" kita "down". Yah circlenya ga ketemu. Jurang bedanya terlalu curam.

Sebenarnya, yang sebenarnya. Adalah ketika kita mampu bersyukur dan berterimakasih kepada diri sendiri. Yang memang belum sempurna, tapi sedang berusaha untuk ke jalan kebaikan. Setiap hari cicil diri biar lebih baik. Meskipun berubahnya cuma setengah milimeter, tapi kan ya...namanya batu aja kalo ditetes air, tiap hari bakal bolong juga. Hal seperti batu yang keras itu, tetap bisa berlubang hanya karena tetesan air yang kontinyu, yang istiqomah jatuh tiap hari.

Apalagi manusia.
Pasti bisa berubah, walopun pelan-pelan. Pelan sekali pelannya.
Tapi percaya


Kalo kita baik, nanti bakal ada kebaikan yang datang. 
Kalo kita pingin jadi baik, nanti bakal dipertemukan dengan kebaikan.
Kalo kita mau coba-coba jadi baik, ya pelan-pelan, nanti pasti ada kebaikan dari semesta yang menuntun.

Menjadi gila dan salah tidak ada baik dan benarnya kecuali sedikit.
Semoga yang sedikit itu jadi pelajaran.

Karena setiap titik balik manusia dimulai dari diri yang merasa salah. Entah mau berubah jadi lebih baik atau membenamkan diri dalam kubangan lumpur hidup dan sulit kembali lagi.



Komentar