Jadi,
Belum apa-apa sudah jadi saja.
Lanjut lagi ke part dua dari banyak part di Jogja.
Jogja kalau malam bisa beda lagi. Waktu kan berlari tuh, jadi yang paling jauh adalah masa lalu. Cerita-Cerita zaman dulu kan bisa jadi bahan candaan sama diri sendiri. Konyol.
Jadi, makin kesini kok Jogja sedikit redup. Walaupun sekarang liat langit Jogja bisa sendirian ngacir kemana-mana naik motor, atau duduk di teras kos. Setidaknya di kampus. Malam jadi beda rasanya.
Ga serame dulu sih. Masih sepi aja. Kadang lewat di 0 km, kok rame. Tapi sepertinya bagi saya itu sepi-sepi aja. Sendirian.
Ga se-sepi yang dibayangkan. Jogja kan selalu jadi sarang tertawa, banyak hal receh yang bisa ditertawakan. Sekarang, sudah banyak teman yang Jogjanya sudah jadi milik berdua, bahkan sebentar lagi bertiga, berempat dan seterusnya. Yah, saya masih sendiri saja.
Ini lebih baik.
Kadang mikir ga sih, gimana kita mau urus orang kalo kita bahkan belum bisa mengurus diri sendiri. "Ah, kan kadang semua itu hanya masalah proses."
"Proses bareng-bareng kan bisa?"
Jujur, saya percaya proses. Tapi ketika itu saya juga harus percaya pada diri saya sendiri. Sampai yakin sekali kalo itulah "proses saya". Hanya saja sekarang, Jogja lebih baik sepi. Tidak ada teman, tidak ada yang namanya teman. Semua hanya fana saja.
Tidak ada.
Baiknya kita bersenandung sendiri dulu. Lepas dari ikatan-ikatan yang terlalu banyak peraturan yang jadikan alasan sebuah senyum jadi banyak indikator.
Mindfulness
Kuasai dirimu
Bergerak sebagai orang yang harus percaya kalau dia bisa adalah sebuah hal yang sulit, jika tidak ada keyakinan pada diri sendiri. Setidaknya hargai dirimu dulu, kemudian nanti kau akan bisa berjabat tangan lagi.
Berdamai dengan diri sendiri.
Kau tau kenapa Jogja juga bisa muram?
Karena ia ajarkan disamping bahagia, sedih juga ada.
Belum apa-apa sudah jadi saja.
Lanjut lagi ke part dua dari banyak part di Jogja.
Jogja kalau malam bisa beda lagi. Waktu kan berlari tuh, jadi yang paling jauh adalah masa lalu. Cerita-Cerita zaman dulu kan bisa jadi bahan candaan sama diri sendiri. Konyol.
Jadi, makin kesini kok Jogja sedikit redup. Walaupun sekarang liat langit Jogja bisa sendirian ngacir kemana-mana naik motor, atau duduk di teras kos. Setidaknya di kampus. Malam jadi beda rasanya.
Ga serame dulu sih. Masih sepi aja. Kadang lewat di 0 km, kok rame. Tapi sepertinya bagi saya itu sepi-sepi aja. Sendirian.
Ga se-sepi yang dibayangkan. Jogja kan selalu jadi sarang tertawa, banyak hal receh yang bisa ditertawakan. Sekarang, sudah banyak teman yang Jogjanya sudah jadi milik berdua, bahkan sebentar lagi bertiga, berempat dan seterusnya. Yah, saya masih sendiri saja.
Ini lebih baik.
| ArtJog 2016 |
Kadang mikir ga sih, gimana kita mau urus orang kalo kita bahkan belum bisa mengurus diri sendiri. "Ah, kan kadang semua itu hanya masalah proses."
"Proses bareng-bareng kan bisa?"
Tidak ada.
Baiknya kita bersenandung sendiri dulu. Lepas dari ikatan-ikatan yang terlalu banyak peraturan yang jadikan alasan sebuah senyum jadi banyak indikator.
Mindfulness
Kuasai dirimu
Bergerak sebagai orang yang harus percaya kalau dia bisa adalah sebuah hal yang sulit, jika tidak ada keyakinan pada diri sendiri. Setidaknya hargai dirimu dulu, kemudian nanti kau akan bisa berjabat tangan lagi.
Berdamai dengan diri sendiri.
Kau tau kenapa Jogja juga bisa muram?
Karena ia ajarkan disamping bahagia, sedih juga ada.
Komentar
Posting Komentar