Bila kau kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kau mau, mungkin itulah saat dimana kau harus belajar bersabar. Pelan-Pelanlah menikmati jalannya waktu, nikmati detik yang kau sumpah serapahi sebagai gangguan pada hidup.
Sebenarnya apalah daya kita untuk mengatur jalan tadir karena memang yang Maha Besar sudah mengatur akan bagaimana kita berjalan. Tapi yang harus benar kau perhatikan ialah apa guna nikmat jasmani dan akal ketika kau tidak gunakan untuk merubah nasib.
Akankah kau diam begitu?
Sudah lama sekali rasanya hidup mengikuti arus nafsu yang mencari kenyamanan pribadi tanpa peduli bagaimana kanan dan kirimu. Sudahkah iya merasakan bahagia yang kau cari-cari itu?
Sesungguhnya hidup akan indah jika kita lebih banyak berbagi dengan sederhana yang kita bisa. Tak selalu muluk dengan retorika dan sistem yang rumit. Mungkin sesungging senyum dapat memperbaiki hidup yang dirasa terlalu berkelumit.
Singkat cerita, ketika memang adalah rasa jengkel terhadap pilihan. Apakah ini jatuh tepat sasaran walau kau rasa tidak. Tapi ternyata itulah pilihan yang memang ada hitam dan putihnya. Jika memang mencari sesuatu yang sempurna kau tak akan temukan, mungkin ia nanti jikalau memang Tuhan bersedia, memiliki rasa iba terhadap ktia agar tak tertunduk malu di hadapanNya.
Ya sudah,
Jalani saja dulu, jika lari terus kau akan lebih dekat dengan jurang, jatuh lagi lebih dalam. Tak akan temukan dataran tinggi untuk sekedar duduk dan beristirahat sejenak.

Suka kalimat endingnya mbak. Semangat! 😊
BalasHapusada dua kata yang typo : tadir dan adalah