Pagi-Pagi bumi sudah basah kuyup.
Tadi saya lapar kemudian memotong mangga yang sudah banyak bagian hitamnya. Potong jadi dadu lalu menaruh mayonaise, keju dan creamer. Kemudian saya sekarang sudah sedikit kenyang.
Ada makalah yang harus dikerjakan, tapi kenapa otak ini sulit untuk berdamai dengan raga. Tinggal bergerak saja ke rak buku kemudian kau ambil bahannya, baca, simpulkan lalu ketik.
Yasudahlah biarlah terperangkap dalam kegalauan ini. Menulis saja dulu, menulis saja. Semoga tercerahkan dalam hujan yang membuat gamang.
Tapi yang paling indah dari hujan ialah duduk sendiri di bawah kegelapan malam. Sebenarnya tidak sendiri. Yang membuat indah ialah semangkok mi panas pedas. Itulah indah. Sayangnya ini masih pagi, belum gelap. Lagipula tidak ada mie.
Yang buat bersyukur pagi ini adalah ketika masih diberikan nafas. Sekriminalnya kita, tapi beruntunglah kau masih bisa bersyukur walaupun ini syukur tak tau diri. Sudah dikasi nafas malah mencari tagut lain. Entahlah, apa ini bisa dinamakan berbakti? Sedikit mendekati syirik mungkin. Tapi semoga lekas sembuh.
Memang awan menangis, tapi bukan berarti bumi sedang duka dengan meneteskan air. Pagi-Pagi sekali ia datang tak pakai ketuk setiap rumah untuk disambangi. Bebas saja turun tanpa parasut, lalu jatuh sebagai martir dan menjadikan bumi sendu. Entah ia akan jadi penyubur tanaman atau malah banjir bandang.
Tergantung bagaimana kita merawat yang namanya bumi ini. Sudah terlalu banyak kecaman setiap hari namun kita jarang sekali peduli pada bumi yang sudah semakin menua dan renta. Pun rentan terhadap sedikit gangguan, sensitif terhadap ancaman, sedikit saja luluh lantak kita jadi kepingan emping melinjo, haha.
Ah, bagaimana merawat bumi?
Hati saja tak mampu kukendalikan
Semoga menanam cabai depan rumah bisa jadi sedikit alasan kalau saya peduli dan cinta terhadap bumi.
Tadi saya lapar kemudian memotong mangga yang sudah banyak bagian hitamnya. Potong jadi dadu lalu menaruh mayonaise, keju dan creamer. Kemudian saya sekarang sudah sedikit kenyang.
Ada makalah yang harus dikerjakan, tapi kenapa otak ini sulit untuk berdamai dengan raga. Tinggal bergerak saja ke rak buku kemudian kau ambil bahannya, baca, simpulkan lalu ketik.
Yasudahlah biarlah terperangkap dalam kegalauan ini. Menulis saja dulu, menulis saja. Semoga tercerahkan dalam hujan yang membuat gamang.
Tapi yang paling indah dari hujan ialah duduk sendiri di bawah kegelapan malam. Sebenarnya tidak sendiri. Yang membuat indah ialah semangkok mi panas pedas. Itulah indah. Sayangnya ini masih pagi, belum gelap. Lagipula tidak ada mie.
Yang buat bersyukur pagi ini adalah ketika masih diberikan nafas. Sekriminalnya kita, tapi beruntunglah kau masih bisa bersyukur walaupun ini syukur tak tau diri. Sudah dikasi nafas malah mencari tagut lain. Entahlah, apa ini bisa dinamakan berbakti? Sedikit mendekati syirik mungkin. Tapi semoga lekas sembuh.
Memang awan menangis, tapi bukan berarti bumi sedang duka dengan meneteskan air. Pagi-Pagi sekali ia datang tak pakai ketuk setiap rumah untuk disambangi. Bebas saja turun tanpa parasut, lalu jatuh sebagai martir dan menjadikan bumi sendu. Entah ia akan jadi penyubur tanaman atau malah banjir bandang.
Tergantung bagaimana kita merawat yang namanya bumi ini. Sudah terlalu banyak kecaman setiap hari namun kita jarang sekali peduli pada bumi yang sudah semakin menua dan renta. Pun rentan terhadap sedikit gangguan, sensitif terhadap ancaman, sedikit saja luluh lantak kita jadi kepingan emping melinjo, haha.
Ah, bagaimana merawat bumi?
Hati saja tak mampu kukendalikan
Semoga menanam cabai depan rumah bisa jadi sedikit alasan kalau saya peduli dan cinta terhadap bumi.

Komentar
Posting Komentar